Sabtu, 08 Oktober 2011

sibernetika


SIBERNETIKA


KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum.Wr.Wb
    Segala puja puji syukur, kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan anugrah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Sibernetika”. Shalawat dan salam tidak lupa kami curahkan kepada Nabi Muhammad SAW, yang telah membawa kita dari zaman kegelapan hingga zaman terang menderang seperti yang kita rasakan  pada saat ini.
    Pada kesempatan ini, tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada Bapak Drs. Ali Nurdin, M.Pd selaku dosen pembimbing mata kuliah Teori Sistem, serta terimakasih pula kepada teman-teman yang telah turut serta memberikan saran dan kritik yang bersifat membagun dalam makalah ini.
    Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini. Oleh karena itu, kami mohon maaf atas kekurangannya.
    Akhir kata, penulis berharap makalah ini benar-benar bermanfaat bagi kita semua, Amin.
Wassalamu’allaikum.Wr.Wb                                      
Jakarta,  27 September 2011

                                                                                                            Penulis







DAFTAR ISI

Kata pengantar.......................................................................................................................
Daftar isi..................................................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN......................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN ......................................................................................................
1.      Pengertian Sibernetika .................................................................................................
2.      Pemikiran Sistemik.......................................................................................................
3.      Ciri-ciri Teori Modern Dalam Bidang Organisasi Dalam Manajemen.........................
BAB III KESIMPULAN.......................................................................................................
Daftar Pustaka.















BAB I
PENDAHULUAN

Dalam sejarah teori tentang organisasi dan manajemen, dapat kita lihat adanya berbagai macam aliran. Pertama-tama, dapat kita jumpai adanya teori-teori klasik tentang organisasi dan manajemen. Arus pemikiran historis kedua dinyatakan sebagai aliran neo-klasik. Secara populer, teori neo-klasik seringkali dinamakan sebagai gerakan hubungan antarmanusia.
Teori neo-klasik disusun berdasarkan landasan teori klasik. Teori neo-klasik memodifikasi, menambahkan dan kadang-kadang memperluas teori klasik. Asumsi dasar teori neo-klasik adalah perlunya ditekankannya aspek-aspek psikologi dan social pekerja sebagai seorang individu dan kelompok kerjanya.
Teori klasik menekankan “manusia ekonomi” dan motivasinya sedangkan neo-klasik mengintroduksi dua macam kesatuan baru analisis teoritis, yaitu: individu dan kelompok kerja. Teori klasik, berpedoman pada perusahaan “total” atau organisasi pekerjaan sebagai kesatuan-kesatuan analisis.  













BAB II
PEMBAHASAN


A.    Sibernetika
Pada awalnya pengertian sibernetika adalah suatu sains tentang kamunikasi dan kontrol pada dunia hewan dan mesin, terakhir pengertian ini dikembangkan menjadi sains tentang penggorganisasian yang efektif. Dalam sibernetika dikembangkan suatu komunikasi (bahasa) dan teknik (kendali) sehingga tidak saja mampu memecahkan masalah-masalah kontrol dan komunikasi secara umum. Konsep sibernetika yang semula diterapkan pada sistem fisik, juga relevan untuk memahami suatu kelompok sosial atau bahkan tingkah laku individu sekalipun, tentunya dengan beberapa penyesuaian terhadap konsep/teori yang berlaku pada tiap-tiap sistem nyatanya.[1]
Sibernetika Talcott Parson (Talcott Parson’s Cybernetics) menyebutkan ada empat subsistem: budaya, sosial, politik, dan ekonomi yang senantiasa melingkari kehidupan kemasyarakatan.
Dilihat dari arus energi, subsistem ekonomi menempati kedudukan paling kuat, diikuti subsistem politik, baru kemudian subsistem sosial (di mana hukum ada di dalamnya), dan diakhiri oleh subsistem budaya. Di sisi lain, dilihat dari arus informasi (tata nilai), subsistem budaya justru yang paling kaya, diikuti oleh subsistem sosial, subsistem politik, dan berakhir pada subsistem ekonomi. Dalam gambar di bawah ini menunjukkan bahwa antar seluruh sub sistem tersebut saling mempengaruhi dan saling mendominasi.[2]




B.     Pemikiran Sistemik (Systems Thinking)
Peter P. Schoderbek, et. al., dalam buku yang berjudul Management System menyajikan pandangan-pandangan berikut tentang pemikiran sistemik atau pemikiran secara sisitemik.
Sasaran pokok pemikiran sistemik adalah untuk membalikan subdivisi ilmu pengetahuan menjadi disiplin yang sangat terspesialisasi yang makin sempit melalui suatu sintesis interdisipliner pengetahuan ilmiah yang berlaku. Melalui pembentukan sebuah kerangka dasar teoretikal, dengan penerapan umum secara relatif, para pemikir sistem telah secara efektif mengubah iklim intelektual. Mereka telah menantang validasi dan penerapan umum pemikiran analitis seperti yang dimanfaatkan dan disempurnakan oleh para ahli ilmu fisika. Berikut perbedaan antara pemikiran analitis dan pemikiran secara sistemik.
1. Pilar-Pilar Metode Analitis
            Metode analitis berlandaskan empat macam pilar sebagai berikut:


 




Pilar-pilar Metode Analitis
Pilar 1 : Diperhatikannya bagian eksternal atau bagian bagian fisik dari universum.
Pilar 2 : Ditiik beratkan dipembagian dan komposisi subsekuen dari fenomena-fenomena.
Pilar 3 : Di kuantivikasinya hubungan-hubungan kausa.
Pilar 4 : Presisi sebagai ideal akhir setiap ahli riset.
2. Pilar-pilar pemikiran sistemik
            Dunia seorang pemikir sistem agak berbeda di banding dengan dunia pemikir analitis. Caranya memandang universum didasarkan 4 macam pilar pokok sebagai berikut.
3.
Modeling
 
4.
Understanding
 
2.
Holism
 
1.
Organism
 
Pemikiran Sistemik


Pilar-pilar pemikiran sistemik

Pilar-pilar pemikiran sistemik adalah sebagai berikut:
Pilar 1  : Organisme (Organicism); maksudnya falsafah, menempatkan organisme pada pusat skema konseptual kita.
Pilar 2  : Holisme (Holism); dalam hal memperhatikan fenomena-fenomena sebagai organisme-organisme yang menunjukkan keteraturan, keterbukaan, pengaturan diri-sendiri, dan teleologi dalam hubungan ini, orang memusatkan perhatian pada keseluruhan dan bukan pada bagian-bagian (ciri khas metode analitis).
Pilar 3  : konstruksi model (modelling); orang tidak mengurai keseluruhan dalam bagian-bagian arbiter, tetapi mengupayakan untuk memetakan konsepsinya tentang fenomena-fenomena riil, atas fenomena-fenomena riil. Hal tersebut mengabstraksi dari fenomena-fenomena riil, ciri-ciri yang bersifat relefan, dan diabaikannya sifat fenomena-fenomena riil yang tidak diperlukan guna menerangkan atau memprediksi prilaku sistem yang bersangkutan.
Pilar 4  : Pemahaman (Understanding); maksudnya memahami pemikiran bahwa :
a.       Kehidupan pada sistem organismik merupakan sebuah proses yang berkelanjutan.
b.      Bahwa orang mencapai pengetahuan tentang keseluruhan, bukan dengan jalan observasi bagian-bagiannya, tetapi dengan jalan mengobservasi proses-proses yang terjadi di dalam keseluruhan.
c.       Bahwa apa yang di observasi bukanlah realitas, tatapi lebih merupakan konsepsi sang pengamat tentang realitas.

Sehubungan dengan kendala-kendala seorang periset yang berorientasi pada sistem, berupaya untuk mencapai pengetahuan secukupnya tentang keseluruhan, dan bukan untuk mencapai pengetahuan akurat tentangnya.
Hal terakhir merupakan sebuah ideal yang tidak pernah di harapkannya akan dicapai. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa ada hal-hal yang melebihi perbedaan antara pemikiran analitis dan pemikiran sistemik daripada sekedar pergeseran dalam titik berat. Pemikiran sistemik merupakan suatu cara yang lebih berarti untuk mempelajari dan mendeekati studi tentang fenomena-fenomena kompleks. Pemikiran sistemik merupakan suplemen bagi pemikiran analitis, dan ia sama sekali tidak menggantikannya. Oleh karena itu para pemikir sistem menganggap lebih berarti untuk mempelajari proses-proses yang “mengaitkan” bagian-bagian secara bersama, daripada melakukan tindakan “menganalisis’ gaya’ micro” mereka.
Pandangan sistem dicirikan oleh dua macam gerakan independen secara kasar ditujukan pada pencapaian yujuan yang sama yakni :
-          Teori Sistem Umum (General Systems Theory=GST) dan
-          Sibernetika (Chybernetics)[3]

C.     Ciri Teori Modern dalam bidang Organisasi dan Manajemen
Menurut Herbert G. Hicks, c. Ray Gullett, dalam buku mereka yang berjudul Organizations: Theory and Behavior (1981), teori-teori modern tentang organisasi dan manajemen memiliki ciri khas, yaitu sebagai berikut:
a.       Pandangan Sistem
Teori modern memandang sebuah organisasi sebagai sebuah sistem yang terdiri dari lima bagian dasar, yakni:
-          Masukan (input);
-          Proses (process);
-          Keluaran (output);
-          Umpan balik (feedback);
-          Lingkungan (environment).
b.      Dinamis
Titik berat pada teori modern adalah pada proses interaksi dinamis, yang terjadi di alam struktur suatu organisasi. Hal tersebut berbeda sekali dengan pandangan klasik, yang lebih menekankan struktur statis. Perlu diingat, bahwa teori dinamis modern, tidak menggantikan struktur, ia hanya sekedar menambahkan penekanan atas proses interaksi yang terjadi di dalam struktur.
c.       Multilevel dan Multidimensional
Teori modern mempertimbangkan setiap tingkatan sesuatu organisasi. Seorang teoretikus  modern segera dapat meloncat dari tingkat analisis yang satu ke tingkat analisis lain. Ia juga mengetahui bahwa organisasi memiliki efek-efek sinergistik, jadi, variabel bagi suatu organisasi mungkin berbeda sama sekali dibandingkan dengan variabel unit-unitnya yang merupakan komponen. Teori modern mementingkan pula masalah suboptimasi. Maksudnya adalah bahwa sebuah kesatuan yang berupaya untuk mencapai sasaran-sasarannya, mungkin sekali tidak memberikan kontribusi maksimum kepada organisasi lebih besar, sebagaimana bagian komponen. Teori modern mencari suatu keseluruhan suatu keseluruhan yang terintegrasi dari organisasi setiap tingkatan.
d.      Multimotivasi
Seperti halnya teori klasik, teori modern mengakui bahwa sesuatu tindakan mungkin dimotivasi oleh aneka macam keinginan. Secara lebih luas dapat dikatakan bahwa pada teori modern, organisasi diasusi ada, karena para partisipan mereka mengekspektasi untuk mencapai sasaran-sasaran tertentu, dengan bantuan organisasi tersebut. Akan tetapi, teori modern tidak mengasumsi bahwa semua sasaran dapat dikembalikan kepada sebuah sasaran tunggal, misalnya laba.
e.       Probabilistik
Teori klasik seperti ditunjukkan oleh asas-asas manajemen bersifat pasti. Maksudnya adalah bahwa dengan jalan mengikuti prinsip-prinsip manajemen, hal tersebut akan memperbaiki kinerja keorganisasian. Akan tetapi, sebaliknya teori modern cenderung dinyatakan dengan istilah “mungkin”, “pada umumnya’, dan “biasanya” karena teori modern mengetahui adanya demikian banyak variabel sehingga hanya beberapa prenyataan prediktif dapat dikemukakan dengan kepastian.
f.       Multidisipliner
Teori modern tentang organisasi dan manajemen menggubakan konsep dan teknik dari berbagai bidang studi. Sumbangan banyak diperoleh melalui sosiologi, teori administrasi, psikologi, ilmu ekonomi, ekologi, operations research dan berbagai studi lainnya. Teori modern berupaya  untuk mencapai suatu sintesis integratif tentang bagian-bagian penting pada semua bidang dalam mengembangkan sebuah teori umum tentang organisasi dan manajemen.
g.      Deskriptif
Teori modern bersifat deskriptif, teori tersebut berupaya untuk menerangkan ciri-ciri organisasi dan manajemen. Teori-teori terdahulu sebagian bersifat normatif atau preskriptif (seperti halnya juga prinsip manajemen tertentu). Para teoritikus modern cukup puas untuk mencapai pemahaman tentang fenomena-fenomena keorganisasian dan menyerahkan pilihan sasaran-sasaran dan metode-metode kepada individu.
h.      Multivariabel
Teori modern cenderung mengasumsi bahwa suatu kejadian disebabkan oleh banyak faktor, yang interdependen dan saling berkaitan satu sama lain. Orang memanfaatkan analisis matriks guna menerangkan dan menganalisis interaksi-interaksi yang kompleks dan interdependensi-interdependensi berbagai variabel.
i.        Adaptif
Agar organisasi dapat bertahan (tetap mempertahankan eksistensinya) di dalam lingkungan yang mengelilinginya, organisasi yang bersangkutan harus terus menerus mengadaptasi diri dengan tuntutan lingkungan yang terus menerus berubah.[4]    





BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
1.      Sibernetika adalah suatu sains tentang kamunikasi dan kontrol pada dunia hewan dan mesin. Dalam sibernetika dikembangkan suatu komunikasi (bahasa) dan teknik (kendali) sehingga tidak saja mampu memecahkan masalah-masalah kontrol dan komunikasi secara umum.
2.      Pemikiran sistemik merupakan suatu cara yang lebih berarti untuk mempelajari dan mendekati studi tentang fenomena-fenomena kompleks.
3.      Teori-teori modern tentang organisasi dan manajemen memiliki ciri khas, yaitu sebagai berikut:
a.       Pandangan Sistem,
b.      Dinamis,
c.       Multilevel dan Multidimensional,
d.      Multimotivasi,
e.       Probabilistik,
f.       Multidisipliner,
g.      Deskriptif,
h.      Multivariable,
i.        Adaptif.








DAFTAR PUSTAKA

1.      Winardi, J. Pemikiran Sistemik dalam Bidang Organisasi dan Manajemen. PT RajaGrafindo Persada. Jakarta: 2005.
2.      Noerrahman, Herman. Penerapan VSM pada pembangunan desa mandiri E3i. http://www.ppt2txt.com/r/4bd4bcb3/.
3.      Munfaat, Imran. Talcott Parson’s Cybernetics dalam Hukum Ketenagakerjaan. http://bangim76.wordpress.com/2008/12/04/sibernetika-talcott-parson-dalam-hukum-ketenagakerjaan/.





[1] Herman Noerrahman, Penerapan VSM pada pembangunan desa mandiri E3i, http://www.ppt2txt.com/r/4bd4bcb3/ . Jum’at, 23 September 2011, 14.23
[2] Imran Munfaat,Talcott Parson’s Cybernetics dalam Hukum Ketenagakerjaan, http://bangim76.wordpress.com/2008/12/04/sibernetika-talcott-parson-dalam-hukum-ketenagakerjaan/, Jum’at, 23 September 2011, 13.36


[3] J. Winardi. Pemikiran Sistemik dalam Bidang Organisasi dan Manajemen. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta:  2005. hlm. 20-22


[4] J. Winardi. Pemikiran Sistemik dalam Bidang Organisasi dan Manajemen. PT RajaGrafindo Persada. Jakarta:  2005. hlm. 190-193

Tidak ada komentar:

Posting Komentar